Pasalnya Silat Cimande lahir pada abad ke-17 dan menjadi cikal bakal pencak silat di Jawa Barat. Iwan menyebutkan, pada Festival Pencak Silat ini Pemkab Bogor melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) ingin lebih mengenalkan silat Cimande kepada masyarakat. Sehingga Cimande tidak hanya dikenal sebagai salah satu nama desa di Kabupaten Bogor.
CeritaSilat Dengan Latar Belakang Cerita di Indonesia: Silat Jawa : 1 Asmara Di Balik Dendam Membara 2 Bajak Laut Kertapati 3 Banjir Darah Di Borobudur 4 Jaka Galing 5 Kemelut Di Majapahit 6 Keris Pusaka Nogopasung 7 Kidung Senja di Mataram 8 Pendekar Gunung Lawu 9 Satria Gunung Kidul 10 Seruling Gading 11 Pecut Sakti Bajrakirana. Visitor
KhoPing Hoo terlahir di Sragen, Solo, Jawa Tengah, pada 17 Agustus 1926 dari keluarga Tionghoa peranakan. Ping Hoo hanya mencecap bangku sekolahan sampai kelas I HIS ( Hollandsche Inlandsche School ), namun minat baca dan keinginannya untuk menulis tinggi. Setelah gonta-ganti pekerjaan, akhirnya dia mulai menulis cerita pendek sejak tahun 1952.
CERITASILAT JAWA Karya Asmaraman KPH. SerialKeris Pusaka Sang Megatantra. Serial Pecut Sakti Bajrakirana. Kidung Senja Di Mataram. Pendekar Gunung Lawu. Satria Gunung Kidul. No comments: Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Pinterest. Location: Pematang Sulur, Telanaipura, Jambi City, Jambi 36361, Republic of
Selainkarya-karya yang termuat di artikel ini, masih terdapat karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo lain yang merupakan karangan-karangan lepas (satu judul/kisah tamat) baik berlatar belakang Tionghoa maupun Jawa seperti serial Pecut Sakti Bajrakirana dan serial Badai Laut Selatan yang berlatarbelakang masa Kesultanan Mataram Islam dan zaman Airlangga.
EditorAndi Hartik. TRENGGALEK, Struktur bangunan purbakala ditemukan di wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Diduga, struktur tersebut merupakan bekas bangunan candi pada era Kerajaan Mataram Kuno. Struktur bangunan itu berada di halaman pekarangan rumah warga di Desa Gondang, Kecamatan Tugu.
KhoPing Hoo. Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo (juga dieja Kho Ping Ho, Hanzi: 許平和; pinyin: XÇ” PĂnghĂ©, 17 Agustus 1926 - 22 Juli 1994) adalah penulis cersil ( cerita silat) yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa
Pencaksilat bahkan menjadi salah satu cabang olahraga pada Asian Games 2018 di Indonesia. Sejatinya, pencak silat juga dipertandingkan dalam SEA Games sejak tahun 1987, tepatnya SEA Games edisi ke-14. Induk organisasi pencak silat adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia . IPSI sudah didirikan sejak 18 Mei 1984 di Surakarta, Jawa Tengah.
assalamualaikum.mngikut apa yg aq dgar silat Nasrul Haq ni dah dibubarkan oleh JAKIM atas alasan ianye tidak lagi mengikut ajaran islam.mengikut cerita yang aq dengar lagi silat ini sangat popular pada ketika itu sehinggakan mempunyai penyertaan seramai lebih 2000 nak persoalkan kenape JAKIM mengharamkan silat tersebut padahal pada pandangan orang orang lame silat ini
Kaliini saya kembali dengan cerita silat (Action) fiksi sejarah yang berlatar pada masa awal berdirinya Kesultanan Mataram Islam atau lebih tepatnya pada masa pemerintahan Panembahan Senopati. Oke langsung saja ini sinopsisnya : Cerita bermula pada penyerbuan pasukan Pajang yang dipimpin oleh para kerabat Selo pada Jipang Panolang.
WduAFSC. Barang siapa yang tak kenal dengan cerita bersambung karya SH. Mintardja yang berjudul Api Di Bukit Menoreh ADBM boleh lah dibilang anak kemarin sore. Cerita silat Jawa berlatar sejarah jaman awal terbentuknya Kerajaan Mataram Islam itu mencetak rekor sebagai cerita bersambung terpanjang sepanjang sejarah, setidaknya sejarah persilatan Jawa. Bagaimana tidak, cerita yang dimuat secara bersambung di harian Kedaulatan Rakyat dan setiap bulan dibukukan itu terbit hingga jilid ke-396 dalam rentang waktu sangat panjang, 32 tahun. Jilid 1 Api Di Bukit Menoreh terbit pada tahun 1968 dan terus berlanjut sampai terpaksa berhenti karena SH Mintardja menutup mata pada 18 Januari 1999 dalam usia 65 tahun. Awal membaca ADBM adalah dengan menyewa bukunya di kios pinggir jalan di Kota Purwokerto. Di sana pula buku silat Asmarawan S Kho Ping Hoo dan berbagai cerita komik saya lahap. Namun karena mendiang bulik Wardjo yang tinggal di gang Kranji selalu membeli ADBM terbaru, maka akhirnya saya rajin ke rumah bulik, hanya untuk pinjam buku. Akibatnya saya diledek bulik setiap datang. Cerita ADBM memang sangat memikat dan merangsang imajinasi. Bagaimana seorang Agung Sedayu yang sangat penakut namun memiliki kemampuan bidik luar biasa berhasil melewati masa-masa sulit, menjadi murid orang bercambuk misterius yang sakti bernama Kiai Gringsing, dan kemudian menjelma menjadi pemuda tangguh, namun tetap dihantui sifatnya yang ragu-ragu. Hubungan Agung Sedayu dengan Senapati Pajang Untara kakangnya, Swandaru Geni adik seperguruan yang gemuk dan bersumbu pendek, Sekar Mirah adik Swandaru yang perajuk, Sidanti pemuda ambisius culas murid Ki Tambak Wedi menjadi pusat cerita pada jilid-jilid awal. Peperangan dengan sisa-sisa laskar Jipang, setelah tewasnya Arya Penangsang, yang dipimpin Tohpati atau Macan Kepatihan menjadi bagian ketegangan cerita. Api perselisihan merambah ke Menoreh setelah hancurnya Tohpati, menyerahnya Sumangkar adik seperguruan Patih Mantahun dari Jipang yang bersenjatakan tongkat tengkorak baja putih, dan menyingkirnya Ki Tambak Wedi dan Sidanti ke tanah perdikan itu setelah markasnya dihancurkan pasukan Pajang yang dipimpin Senapati Untara dan didukung Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru. Di tengah membaranya api pertentangan di Menoreh yang dibakar Sidanti, Ki Tambak Wedi dan Argajaya tokoh ambisius adik Argapati atau Ki Gede Menoreh, gadis cantik halus bernama Pandan Wangi adik tiri Sidanti, puteri Ki Gede Menoreh bertemu Gupita Agung Sedayu yang ditaksirnya namun justru ia harus menerima cinta Gupala Swandaru Geni. Ketika api di Tanah Perdikan Menoreh padam dengan tewasnya Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang ternyata ayah Sidanti, serta tobatnya Ki Argajaya, cerita kemudian bergeser dengan pergulatan menyusul dibukanya alas Mentaok oleh Sutawaijaya dan Ki Gede Pemanahan yang menjadi awal berdirinya Mataram. Pertentangan antara Mataram dan Pajang membakar Menoreh lagi. Ada masa dimana saya bosan dan terputus membaca kisah ADBM, oleh karena terlalu banyak dan panjangnya kisah kembangan tak penting yang disisipkan ke dalam cerita utama. Hal itu memberi kesan ADBM manjadi amat bertele-tele, tidak sebagaimana karya legendaris SH Mintardja sebelumnya yaitu Nagasasra dan Sabuk Inten yang tamat pada jilid ke-29. Bagian yang menarik di ADBM adalah saat terurainya misteri sosok Kiai Gringsing, pesatnya perkembangan ilmu Agung Sedayu yang begitu luar biasa setelah menekuni ilmu dari buku peninggalan perguruan Windujati, salah pahamnya Swandaru terhadap tingginya ilmu saudara seperguruannya itu, dan cinta terpendam Pandan Wangi terhadap Agung Sedayu. Beberapa tahun kemudian baru saya ketahui bahwa setidaknya ada dua penulis yang melanjutkan kisah legendaris ini. Yang pertama adalah ADBM lanjutan karya Flam Zahra yang berani dan imajinatif, hanya sayang berhenti pada jilid 403. Karya ini patut diapresiasi dan akan sangat menarik jika saja diteruskan, meski ada sejumlah bagian yg perlu diperbaiki untuk konsistensi cerita. Kelanjutan ADBM yang satu lagi ditulis oleh seseorang yang menamakan diri Panembahan Mandaraka mBah Man dari Padepokan Sekar Keluwih, dimulai dari ADBM Jilid ke-397 hingga tamat pada jilid 416 dengan meninggalnya Swandaru setelah membisikkan pesan misterius kepada Ki Rangga Agung Sedayu RAS yang diduga agar RAS mengawini Pandan Wangi. Selanjutnya ADBM diteruskan mBah Man dengan membuat judul baru Sejengkal Tanah Setetes Darah. Meskipun mencoba menyesuikan dengan gaya tulis SH Mintardja, tanpa terlalu bertele-tele dalam bercerita, mBah Man bisa dibilang lebih "berani" dalam memainkan karakter utama dan masuk lebih dalam ke bagian sensitif dan pribadi, meski tak seberani, seliar dan seterbuka buku Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Namun sayang sekali, terakhir kali saya membaca tulisan mbah Man, ia sudah mengikuti jejak pengarang aslinya, yaitu ceritanya mulai terlalu betele-tele dengan menulis yang remeh temeh, dan melenceng jauh dari alur utamanya. Bagaimana pun di tengah keringnya cerita silat berlatar sejarah, upaya mbah Man untuk menghidupkan ADBM sangat layak untuk diapresiasi., seorang pejalan musiman dan penyuka sejarah. Penduduk Jakarta yang sedang tinggal di Cikarang Utara. Traktir BA secangkir kopi. Secangkir saja ya! Oktober 28, 2017.
CERSIL INDONESIASerial Keris Pusaka Sang Megatantra 02. Nurseta Satria Karang Tirta, Jilid 01-10, 11-20 Tamat04. Perawan Lembah Wilis, Jilid 01-10, 11-20, 21-30, 31-40, 41-48 TamatSerial Pecut Sakti Bajrakirana 01. Pecut Sakti Bajrakirana, Jilid 01~10, 11~18 Tamat02. Seruling Gading, Jilid 01~12, 13~24 Tamat03. Alap-alap Laut Kidul 29 Jilid04. Bagus Sajiwo, Jilid 01~10, 11~21 Tamat05. Kemelut Blambangan JilidSerial Sejengkal Tanah Sepercik Darah 01. Sejengkal Tanah Sepercik Darah, Jilid 01-12, 13-23 Tamat02. Geger Singosari dan Majapahit JilidSerial Geger Demak Pajang 01. Geger Demak Pajang dan02. Setan Kober 6 JilidCerita Silat Lepas Jawa 06. Kemelut di Cakrabuana07. Kemelut di Majapahit 32 Jilid13. Rondokuning Membalas Dendam 6 Jilid15. Geger Solo Jilid16. Darah Daging Jilid17. Merdeka atau Mati Jilid
- Cerita silat sempat digandrungi pembaca buku di Indonesia. Kisah disajikan berjilid-jilid, membuat pembacanya tak sabar menunggu episode berikutnya. Beberapa penulis merajai pasar ini, salah satunya Singgih Hadi ratusan judul cerita silat ini dilahirkan di Yogyakarta pada 26 Januari 1933. Selain menjadi penulis cerita silat, Mintardja bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, dan terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Daerah Istimewa Yogyakarta. Kisah-kisahnya digali dari pelbagai sejarah kerajaan di Jawa. Menurut Teguh Setiawan dalam artikel bertajuk “Dari Hui Rui sampai KPH” yang dimuat Republika edisi 14 November 2011, Mintardja menguasai Babad Tanah Jawi sehingga relatif tak menemui kesulitan saat menulis karya-karyanya. Sebelum Mintradja, penulis lain yakni Kho Ping Hoo telah lebih dulu melahirkan cerita silat yang berlatar cerita-cerita dari Cina. Inilah yang memotivasi Mintradja untuk menulis cerita silat dengan latar sejarah Jawa. “Booming cerita silat Tionghoa memprovokasi penulis lokal untuk menulis genre yang sama tapi dengan latar belakang Jawa. Singgih Hadi Mintardja muncul sebagai penulis cerita silat lokal yang paling fenomenal,” imbuh Teguh Setiawan. Salah satu karya Mintardja yang digandrungi, Api di Bukit Menoreh 1967, terdiri dari 400 lebih seri. Saking populernya, cerita ini sempat diangkat ke layar lebar pada 1971. “Lewat buku ini, saya ingin menegaskan bahwa tanah tumpah darah kami juga memiliki material yang bisa dijadikan bahan cerita silat […] Saya ingin menciptakan cerita saya dengan ruang imajinasi lokal,” kata Mintardja seperti dikutip Teguh Setiawan dalam artikelnya yang lain. Selain Api di Bukit Menoreh, karya lainnya yang laris di pasar adalah Nagasasra dan Sabuk Inten. Cerita ini mula-mula dimuat bersambung di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Kisah ini melahirkan tokoh legendaris bernama Mahesa Jenar yang amat melekat di ingatan para pembaca. Ia dikisahkan sebagai mantan prajurit Kesultanan Demak yang mencari pusaka kerajaan, yakni keris Nagasasra dan Sabukinten. Berkat keteguhannya, ia berhasil mendapatkan kembali kedua keris itu sebagai simbol kejayaan negara. Sepi Ing Pamrih dan Menang Ora Ngasorake Sekali waktu, seperti dilaporkan Tempo edisi 18 Januari 1992, Mahesa Jenar sempat dipentaskan dalam bentuk ludruk di hadapan para tentara. Judul pentasnya “Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro”—sekarang menjadi Kodam IV Diponegoro. Seperti perjuangan Mahesa Jenar setelah tak lagi menjadi prajurit Demak, pementasan ini menekankan pentingnya bakti kepada negara meski sudah tidak lagi menjabat. Di sisi lain, sosok Mahesa Jenar yang tanpa pamrih menyentil laku para mantan pejabat yang kerap ingin menjadi “pengusaha profesional atau politikus oplosan.” “Darma kita kepada negara tak harus dilakukan dalam status pejabat resmi. Sambil jadi orang biasa pun jalan darma tetap terbuka,” kata Widayat yang memerankan Mahesa Jenar, seperti dikutip Tempo. Namun, imbuh Tempo, kala itu dekade 1990-an, dan barangkali hingga saat ini, mengikuti laku Mahesa Jenar tidak mudah. Para mantan pejabat tak suka memilih jalan sepi ing pamrih, sebab ia akan ora keduman atau tak kebagian di tengah persaingan mengejar materi dan jabatan baru. Sikap ini dilatari ketakutan para pejabat ketika mereka menjadi mantan pejabat. Segala kekuasaan luruh, hilang dari keseharian yang telah begitu lama dinikmati. Ketakutan berdegap kala masa pensiun telah menunggu di hadapan. “[Menjadi] mantan, pendeknya, gejala menakutkan. Mungkin malah wujud ketakutan itu sendiri. Maka, kalau menjadi mantan tak lagi terhindarkan, maunya mereka mau menjadi mantan yang makmur […] Pendeknya, jangan seperti Mahesa Jenar sepi, dingin, di hutan-hutan, jauh dari bar dan credit card,” pungkas Tempo. Selain bersahaja, sikap Mahesa Jenar yang lain adalah menghindari kekerasan dalam menaklukkan lawannya, setidaknya dalam adegan saat dia mengalahkan Ki Wirasaba. “Menang ora ngasorake” kata pitutur Jawa. Seno Gumira Ajidarma dalam Kompas edisi 24 Januari 1999 mengisahkan adegan ini. Sekali waktu, saat ia berkonflik dengan Ki Wirasaba—orang yang kakinya ia obati sehingga sembuh dari kelumpuhan—Mahesa Jenar tak membunuh atau melukai lawannya. Saat kapak Ki Wirasaba mencuil batu untuk memperlihatkan kesaktiannya, Mahesa Jenar justru menghancurkan batu itu dengan ajian Sasra Birawa. Ki Wirasaba terkejut dan akhirnya menyadari kesalahan dan kelemahannya. Belum Tamat hingga Pungkas Hayat Mintardja wafat pada 18 Januari 1999, tepat hari ini 20 tahun lalu. Ia meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, setelah sebulan dirawat karena menderita penyakit ginjal dan jantung. Jenazahnya dikebumikan di permakaman Arimatea Jalan Tamansiswa, Yogyakarta. Pemakamannya, seperti dilaporkan Kompas edisi 21 Januari 1999, dihadiri mantan Dirjen Kebudayaan, Kapolda DI Yogyakarta, dan kalangan pejabat pemerintah Provinsi dan Kota Yogyakarta. Selain itu, hadir pula kalangan seniman dan sastrawan seperti Bakdi Sumanto, Sudarso Sp, Butet Kertarejasa, Bondan Nusantara, Yati Pesek, Jadug Ferianto, dan ilustrator sejumlah ceritanya yakni Herry Wibowo. Menurut putra tertuanya, Andang Suprihadi, seperti dilansir Kompas, Mintardja menderita sakit jantung koroner sejak 1989. Meski demikian ia tetap berkarya. “Bapak memang penuh semangat kalau sudah menulis. Kalau sudah khusyuk menulis tidak ada yang berani mengganggunya,” ujar Andang. Infografik Mozaik Singgih Hadi Mintardja Sepanjang hidupnya, selain menulis cerita silat, ia juga menulis cerita ketoprak, di antaranya Ampak-ampak Kaligawe, Kembang Kecubung, Kembang Tumelung, dan Prahara. Sementara cerita silat lainnya yang diangkat ke layar lebar selain Api di Bukit Menoreh adalah Tanah Warisan, yang dalam film judulnya menjadi Sisa-sisa Laskar Pajang 1972. Andang Suprihadi menambahkan, sejak pertama kali dimuat di sebuah surat kabar pada 1968, kisah Api di Bukit Menoreh belum juga selesai sampai hidup Mintardja usai. “Sudah sampai Api di Bukit Menoreh IV/59. Jadi artinya sudah 459 jilid buku. Ceritanya masih terus jalan,” katanya. Kiprah Mintardja dalam dunia menulis dianugerahi sejumlah penghargaan. Salah satunya Sang Hyang Kamahayanikan Award dari panitia Borobudur Writers and Cultural Festival tahun 2012 yang saat itu mengusung tema “Memori dan Imajinasi Nusantara Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. Mintardja, yang kata Seno Gumira Ajidarma adalah seorang yang sangat sederhana dan rendah hati serta tidak pernah terlibat polemik sastra yang cerewet, dinilai layak mendapat penghargaan itu. Ia merupakan generasi pertama penulis cerita silat yang mengangkat latar sejarah Nusantara. - Humaniora Penulis Irfan TeguhEditor Ivan Aulia Ahsan